Motivasi Hidup - Memaknai Keseimbangan Hidup - CS Media Penulis Motivasi Hidup - Memaknai Keseimbangan Hidup - CS Media Penulis

Motivasi Hidup – Memaknai Keseimbangan Hidup

 

Memaknai Keseimbangan Hidup – Ketika kamu bangun tidur dan membuka mata, apa yang kamu rasakan. Ya, udara masuk lewat lubang hidung melewati tenggorokan menyusuri relung paru, bertukar di alveolus lalu keluar kembali ke udara lepas. Setiap helaan nafas melewati tubuhmu dan juga tubuh orang lain, bergantian. Lalu kembali kepada tumbuh-tumbuhan yang memproses karbon dioksida dari bekas bernafasmu. Mereka mengolah karbon dioksida untuk ditukarkan lagi dengan oksigen untukmu. Apa yang terjadi? Keseimbangan. Alam sendiri merupakan perwujudan dari keseimbangan. (Motivasi Hidup)

Motivasi Hidup – Memaknai Keseimbangan Hidup dari Rusa dan Singa


Memaknai Keseimbangan Hidup

Jika kamu pernah berpikir mengapa harus memaknai keseimbangan hidup, jawabannya tentu agar kita terus lestari. Dalam hidup selalu ada yang dimakan dan dimakan, selalu ada yang lahir dan ada yang mati begitu terus sampai keseimbangan alam tercipta. Sang rusa memakan rumput sampai kenyang. Namun siang hari sang singa malah memakan rusa itu. Tiga bulan lagi sang singa mati lalu dimakan oleh belatung dan dekomposer. Belatung dan dekomposer kemudian hidup untuk menyuburkan tanah dan menumbuhkan rumput untuk dimakan rusa yang lain. Begitu terus sampai alam terus lestari.

Baca Juga : Motivasi Kegagalan 

Apakah ada suatu kejahatan disini? Apakah singa jahat kepada rusa? Kalau iya berati rusa jahat terhadap rumput? Dalam keseimbangan alam, tidak ada yang jahat dan tidak ada yang benar. Semua ini adalah kaidah alam. Apakah Tuhan sang pencipta skenario ini jahat? Kalau Tuhan baik mengapa tidak jadikan semua hewan memiliki satu makanan saja sehingga predasi tidak akan pernah terjadi. 


Memaknai Keseimbangan Hidup

Tuhan mungkin lebih baik dianggap jahat daripada dianggap bodoh. Skenario Tuhan adalah yang paling sempurna. Andai semua hewan makan rumput maka justru alam semakin rusak dan hancur. Bukan karena saling membunuh, memakan lalu kenyang seperti yang dilakukan singa kepada rusa. Mereka saling menghancurkan karena berebut rumput yang jumlahnya sedikit jika dibandingkan dengan kapasitas pemakan yang banyak. Mereka berebut kekuasaan, saling aku-mengakui bagiannya, yang kuat akan menang dan punya banyak pasokan makanan. Yang lemah? 

Itu semua terjadi jika semua hewan memakan satu makanan yang sama. Keseimbangan alam menjadi rusak dan mungkin sebentar lagi akan hancur. Lantas apakah ada contoh lain? Ada yaitu manusia. Manusia memakan satu makanan yang sama untuk semua jenisnya yaitu uang. Manusia mana pun pastinya memburu dan mencari makanan utama yang bernama uang. Akhirnya keseimbangan antara manusia satu dengan manusia lainnya jadi kacau. (Motivasi Hidup)

Keseimbangan Manusia

Satu dengan lainnya saling aku-mengakui, yang kuat akan mendapatkan banyak uang dan yang lemah berharap ada orang yang mengasihinya. Perlahan, keseimbangan mulai melorot. Orang yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin menderita. Begitu terus tidak akan pernah selesai sampai mereka sadar. Berebut uang dan kekuasaan bukan hal yang baru kita dengar di telinga. 


Memaknai Keseimbangan Hidup

Lantas, apakah mungkin memaknai keseimbangan hidup manusia itu ada? Keseimbangan yang bagaimana dulu. Kalau masalah uang, manusia tidak akan pernah selesai. Karena uang adalah makanan pokok hidup di dunia peradaban manusia terutama manusia modern. Semua itu selesai ketika manusia tidak hidup lagi jadi manusia, mereka tidak menamakan lagi kertas kapas itu dengan uang. Mereka makan layaknya rusa dan dimakan oleh singa. 

Mereka tidak pakai celana dan tidak naik mobil avanza. Mereka tidak pegang smartphone melainkan kapak perimbas, batu dan kayu. Mereka tidak lagi makan di KFC dengan ayam krispinya. Mereka memburu dan menjadi rusa. Lalu singa memburu dan memakannya. Ya, itu jika kamu mau memaknai keseimbangan hidup. Tapi bukankah itu tidak mungkin? Apalagi sejak uang mengubah segalanya. (Motivasi Hidup)

Tinggalkan komentar